Recent Post

FLEX

Bersama siswa Kelas IX Pangeran Diponegoro

Foto bersama siswa kelas IX Pangeran Diponegoro setelah praktikum Listrik Dinamis

Paduan Suara PGRI Banggae Timur

foto bersama setelah Upacara HUT PGRI

Peserta KMD Pramuka Tahun 2015

setelah Senam, berfoto bersama teman-teman KMD dari Berbagai daerah di Sulawesi Barat

Minggu, 29 Oktober 2023

Budaya positif cerminan kepribadian


 Budaya positif cerminan kepribadian

Penulis: Megawati, S.Pd

Sekolah menjadi tempat siswa mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sekolah sebagai wadah menciptakan dan membentuk karakter atau kepribadian siswa dan banyak yang bisa didapatkan sebagai bekal masa depan anak bangsa. Tentunya sekolah harus mampu mendukung dan memfasilitasi segala bentuk kebutuhan murid selama menempuh pendidikan di sekolah. Dukungan penuh dari orang tua tentunya mampu mempermudah guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. 

Lingkungan sekolah yang positif menjadi salah satu cerminan siswa untuk berperilaku positif. Segenap warga sekolah harus mampu menunjukkan perilaku positif secara individual. Jika perilaku warga sekolah positif maka akan berdampak positif pula bagi siswa. Penerapan budaya positif di sekolah sesuai filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid, maka seorang pendidik harus mempunyai strategi dalam menumbuhkan lingkungan yang positif. Lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan murid kebebasan untuk berproses, sehingga mampu menerima atau menyerap suatu pembelajaran. 

Budaya positif akan tumbuh dan berkembang jika terjalin kolaboratif antar warga sekolah. Untuk menanamkan nilai-nilai positif pada siswa maka perlu adanya contoh kyata dari seorang guru. Guru itu bukan Hanya diguguh tapi ditiru. Siswa akan bercermin kepada gurunya sosok yang hampir setiap hari ditemuinya. Jika ingin ditiru oleh siswa maka tanamkanlah budaya positif walau hanya sebesar biji dzzahrah. 

Berikut budaya positif yang bisa diterapkan di sekolah : 

1. Salah satu nilai dari Guru penggerak yaitu melayani murid dengan lebih baik adalah nilai “Kolaboratif”. Kolaboratif adalah sebuah nilai yang sangat penting dimiliki oleh seorang guru. Guru yang memiliki nilai kolaboratif mampu membangun rasa saling percaya dan saling menghargai, serta mengakui dan mengelola kekuatan serta perbedaan peran tiap pemangku kepentingan di sekolah, sehingga tumbuh semangat saling mengisi, saling melengkapi. Adapun penerapan nilai tersebut di sekolah adalah * Saya berkolaborasi dengan rekan serumpun mata pelajaran untuk merencanakan pembelajaran, berbagi ide dan strategi yang akan diterapkan pada proses pembelajaran ataupun berdiskusi dalam memecahkan masalah masalah yang dialami pada saat PBM 
 * Menjalin komunikasi yang baik dengan dengan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran dan mewujudkan tercapaianya profil pelajar Pancasila. 
 * Terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan perencanaan dan pengembangan kurikulum, komunitas belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah serta kegiatan pengembangan ekstrakurikuler. 
 

2. Kegiatan di sekolah yang anggap sebagai contoh penerapan budaya positif :  

1) Melakukan asesmen diagnostic di awal pertemuan untuk lebih memahami kondisi, karakteristik , potensi, minat dan pengetahuan awal murid sehingga terwujud wellbeing dalam ekosistem Pendidikan di sekolah. 
 

2) Melaksanakan tugas piket dengan datang lebih awal ke sekolah untuk menjemput murid sebagai bentuk pemberian keteladanan dalam hal kedisiplinan. 

3) Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat murid. Kegiatan ekstrakurikuler ini akan membantu murid menemukan bakat, minat, dan potensi mereka di luar kurikulum akademik

* 4) Peningkatan profesionalisme guru melalui seminar dan workshop yang dilaksanakan 2x dalam 1 semester.

5) Kegiatan bincang pendidik yang dilaksanakan setiap 1 kali seminggu untuk berbagi praktik baik sesam guru serta menjadi sarana untuk mengevaluasi pembelajaran dan membicarakan kendala-kendala yang dialami dalam proses belajar mengajar. 

6) Pembiasaan setiap hari jumat yakni : 1. Jumat beriman , Minggu 1 dan Minggu keempat( sholat dhuha, dzikir bersama, Tadarus, marawis, Qasidah, sedekah ) 2. Jumat sehat , Minggu kedua ( senam bersama dan jalan sehat dilakukan sesuai jadwal secara bergantían ) 3. Jumat bersih, Minggu ketiga ( membersihkan lingkungan sekolah, merawat tanaman).

7) Membentuk pengurus kelas dan memberikan kepercayaan kepada para pengurus yang terpilih dalam merancang dan melaksanakan program kelas berdasarkan hasil kesepakatan kelas. Kegiatan ini membantu untuk mewujudkan kepemimpinan murid, sehingga mereka merasa kompeten, percaya diri, mandiri, dan merasa dicintai. 

8). Dalam rangkah sekolah sehat setiap hari Rabu secara bergantian dan terjadwal pelaksanaan makan buah, makan telur ayam kampung atau telur puyuh, sarapan sehat dan makan bubur kacang hijau, sebagai bentuk penananman sehat gizi. 

9). Pembinaan sehat fisik setiap hari Sabtu dengan melakukan kegiatan sehari bermain di luar kelas dengan memperkenalkan permainan tradisional dan senam berama. 

10). Bekerja sama dengan dinas kesehatan khususnya Puskesmas setempat dalam mleaksanakan sehat imunisasi dengan rutin 4x dalam setahun. 
 

11). Lomba Ajang kreativitas siswa yang dilaksanakan tiap tahun, merupakan kegiatan rutin di sekolah kami. Kegiatan ini dilaksanakan oleh siswa dan didampingi oleh guru guru. Tujuan kegiatan ini adalah ajang pencarian bakat (identifikasi bakat dan potensi dari murid murid SD yang merupakan calon input yang akan masuk di sekolah kami) dan sekaligus juga sebagai ajang promosi sekolah. Kegiatan ini juga membantu untuk mewujudkan kepemimpinan murid. 

12). Setiap anak membawa kantong plastik (kresek) agar bisa dijadikan sebagai wadah sampah mereka, kemudian sampah yang dodałam kresek tersebut dibawa pulang oleh siswa.
 

13). Melakukan kesepakatan bersama dengan membuat keyakinan kelas dan keyakinan sekolah.

IMPLEMENTASI DAN PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SMA NEGERI 1 SENDANA

 

IMPLEMENTASI DAN PENERAPAN BUDAYA POSITIF

DI SMA NEGERI 1 SENDANA

Oleh : SYAPRI S.Si

Calon Guru Penggerak Angkatan 9


A.    Latar belakang

Pemahaman serta pemikiran  Ki Hadjar Dewantara, bahwa sebagai pendidik yang bertugas dalam satuan Pendidikan diibaratkan sebagai seorang petani. Petani harus memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Artinya, nilai dan peran kita sebagai seorang guru harus mampu membuat suasana sekolah layak untuk dijadikan tempat belajar murid, layak dari segi keamanan dan kenyamanannya. Sehingga karakter baik akan tumbuh pada diri murid yang sesuai dengan visi Profil Pelajar Pancasila.

Budaya positip adalah kayakinan dan nilai yang disepakati yang menjadi kebiasaan bersama yang akan dilakukan secara terus menerus sehingga menjadi suatu pembiasaan. Selama ini kesadaran akan penerapan disiplin masih berdasarkan motivasi ekstrinsik, dimana pembiasaan positif yang diterapkan bukan disiplin positif, namun masih menganut hadiah dan hukuman. Tanpa adanya budaya positif maka akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi peserta didik. Pembiasaan yang positif diawali dari diri sendiri dan lingkungan rumah.

Budaya positif di sekolah tentu saja akan mendukung terbentuknya budaya belajar di sekolah. Norma-norma baik yang disuntikkan guru kepada murid akan semakin menguatkan, mengokohkan kepribadian murid sehingga murid tidak saja cerdas secara akademik tetapi juga santun secara moral. Dengan demikian, Profil Pelajar Pancasila (PPP) yang diidam-idamkan bisa diwujudkan. Pelajar yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.

Upaya mewujudkan budaya positif menjadi bagian dari visi guru penggerak, semua peran itu dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Sama dengan membangun dan mengembangkan budaya positif sekolah. Tidak bisa ditempuh secara individu, perlu berkolaborasi. Siswa, guru, manajemen sekolah, karyawan, orang tua semua harus terlibat. Guru-guru sebagai pemegang posisi penting dalam membangun budaya positif bisa memulainya dari ruang kelas mereka. Membangun kesepakatan kelas, keyakinan kelas akan hal-hal positif yang bisa ditumbuhkan sehingga pembelajaran yang mereka dapatkan benar-benar memerdekakan. Sekolah sebagai ekosistem pendidikan yang ramah anak dan ramah lingkungan benar-benar dapat diwujudkan.

Dari pemahaman tersebut tersebut dapat dicapai apabila sekolah mampu menghadirkan sebuah budaya positif dalam kesehariannya. Budaya positif akan tumbuh dan berkembang dari tindakan disiplin positif berdasarkan keyakinan-keyakinan positif yang dibentuk di kelas dengan mempertimbangkan karakter serta kebutuhan murid. Guru dan murid juga harus berkolaborasi dan bekerjasama untuk menerapkan restitusi sebagai solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah yang muncul dalam lingkungan sekolah . Dalam hal ini, diharapkan guru hadir sebagai seorang manajer dalam proses restitusi murid. Budaya positif menciptakan suasana pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Untuk mewujudkannya perlu ada disiplin positif di sekolah. Salah satu cara untuk menerapkan disiplin positif adalah melalui proses pembentukan keyakinan kelas dan pelaksanaan segitiga restitusi.

Sebagai bentuk perhatian  untuk menciptakan suasana dan budaya positif sekolah, saya sebagai calon guru penggerak melaksanakan sebuah tindakan aksi nyata di lingkungan sekolah yang berjudul " Implementasi dan Penerapan Budaya Positif di SMA Negeri 1 Sendana ".



B.       Tujuan

Dengan adanya Implementasi dan Penerapan Budaya Positif di SMA Negeri 1 Sendana seluruh warga sekolah dapat menumbuhkan disiplin positif pada siswa, terutama disiplin positif dalam perilaku sehari-hari demi pengembangan dan kemajuan sekolah.

C.      Tolok Ukur

Guna mengetahui seberapa pentingnya tindakan aksi nyata yang akan saya laksanakan, maka saya menggunakan tolok ukur sebagai berikut:

1.      Semua warga sekolah SMA Negeri 1 Sendana  dapat menumbuhkan budaya positif  yang diwujudkan dalam bentuk komitmen bersama,

2.      Semua Warga sekolah dapat menerapkan Budaya positif  bersama yang telah disepakatinya secara konsisten

D.      Linimasa tindakan yang akan dilakukan

  1. Membuat power point
  2. Menemui kepala sekolah untuk meminta ijin menyampaikan materi dan presentasi, serta mengatur jadwal
  3. Membuat Undangan untuk Sosialisasi Implementasi dan Penerapan Budaya Positif di SMA Negeri 1 Sendana melalui grup WA sekolah
  4. Berlatih presentasi

E.       Dukungan yang dibutuhkan

Rencana Tindakan aksi nyata ini akan dapat berjalan dengan lancar apabila memperoleh dukungan dari berbagai pihak diantaranya bapak Kepala Sekolah yang akan memberi Dukungan moril, kebijakan, dan materiil dari kepala sekolah sangat dibutuhkan demi terlaksananya rancangan aksi nyata terkait pembentukan komitmen bersama melalui Implementasi dan penerapan Budaya Positif di sekolah . Selanjutnya kerjasama serta dukungan dari rekan-rekan guru lain di sekolah menjadi salah satu faktor terpenting berhasilnya sebuah program sekolah, terutama dalam menerapkan rancangan aksi nyata terkait budaya positif ini. Dukungan yang dibutuhkan dalam kegiatan diseminasi ini antara lain:

  1. Ruangan untuk diseminasi dan presentasi(meminta bantuan atau kerjasama wakil kepala sekolah bagian  sarana dan parasarana)
  2. Pembuatan materi dalam bentuk slide powerpoint
  3. Peralatan untuk diseminasi  (meminta bantuan atau kerjasama wakail kepala sekolah bagian  sarana dan parasarana)

F.     Hasil Yang Di dapatkan Dari Kegiatan Diseminasi

  1. Adanya dukungan dari sekolah dalam pembiasaan pembentukan karakter siswa.
  2. Disiplin positif mulai tertanam pada diri warga sekolah
  3. Melalui pembelajaran yang berpihak pada siswa, menumbuhkan budaya positif bernalar kritis dan kreatif.
  4. Adanya inovasi dalam pengembangan proses pembelajaran

G.    Refleksi

  1. Memunculkan motivasi instrinsik membutuhkan proses yang berkelanjutan
  2. Pendidikan dan pengajaran yang berpihak pada anak melalui proses menuntun segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan melalui budaya positif, pembelajaran yang menarik akan menumbuhkan karakter positif bagi siswa.
  3. Guru berusaha memiliki posisi kontrol sebagai manager

Jumat, 27 Oktober 2023

Membangun Budaya Positif di Sekolah: Kunci sukses pendidikan

 


Membangun Budaya Positif di Sekolah: Kunci sukses pendidikan

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Mengenai Pendidikan dengan perspektif global, KHD mengingatkan bahwa konteks sosial budaya Indonesia yang beragam dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan zaman.

Dalam membangun budaya positif di sekolah sesuai filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu Pendidikan yang berpihak pada murid, maka seorang pendidik harus mempunyai strategi dalam menumbuhkan lingkungan yang positif. Lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan murid kesempatan dan kebebasan untuk berproses, sehingga mampu menerima atau menyerap suatu pembelajaran.

Dari pemahaman tersebut tersebut dapat dicapai apabila sekolah mampu menghadirkan sebuah budaya positif dalam kesehariannya. Budaya positif akan tumbuh dan berkembang dari tindakan disiplin positif berdasarkan keyakinan-keyakinan positif yang dibentuk di kelas dengan mempertimbangkan karakter serta kebutuhan murid. Guru dan murid juga harus berkolaborasi dan bekerjasama untuk menerapkan restitusi sebagai solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah yang muncul dalam lingkungan sekolah . Dalam hal ini, diharapkan guru hadir sebagai seorang manajer dalam proses restitusi murid. Budaya positif menciptakan suasana pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Untuk mewujudkannya perlu ada disiplin positif di sekolah. Salah satu cara untuk menerapkan disiplin positif adalah melalui proses pembentukan keyakinan kelas dan pelaksanaan segitiga restitusi. 

Pendidikan adalah landasan penting bagi perkembangan masyarakat dan generasi mendatang. Di dalam dunia pendidikan, sebuah budaya positif di sekolah adalah elemen yang sangat penting. Budaya positif di sekolah tidak hanya menciptakan lingkungan yang aman dan menyenangkan bagi siswa, tetapi juga berdampak positif pada perkembangan akademik dan sosial mereka. Artikel ini akan mengulas pentingnya budaya positif di sekolah dan memberikan contoh budaya positif yang dapat diterapkan di sekolah

Apa itu Budaya Positif?

Budaya positif di sekolah merujuk pada norma-norma, nilai-nilai, dan perilaku yang diterapkan dalam lingkungan pendidikan. Ini menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan siswa, memotivasi mereka, dan mendorong keberhasilan akademik. Budaya positif di sekolah membantu menciptakan iklim di mana siswa merasa diterima, dihargai, dan termotivasi untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Manfaat Budaya Positif di sekolah

1.     Motivasi siswa: Budaya positif membantu siswa merasa termotivasi untuk belajar dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Mereka merasa dihargai dan percaya bahwa usaha mereka diakui

2.     Kurangi stress: Dalam lingkungan yang mendukung, siswa mengalami tingkat stres yang lebih rendah. Mereka merasa nyaman dalam mengungkapkan diri dan merasa aman

3.     Peningkatan Kinerja Akademik: Budaya positif di sekolah seringkali berdampak positif pada kinerja akademik. Siswa yang merasa didukung cenderung lebih berprestasi

4.     Keterlibatan orang tua: Budaya positif juga melibatkan orang tua dan wali murid. Mereka cenderung lebih terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka

           Beberapa Budaya Positif yang dapat diterapkan di sekolah

1.     Disiplin positif dan nilai kebajikan Universal

2.     Teori Motivasi , Hukuman, Penghatgaan & Restitus

3.     Kayakinan kelas

4.     Kebutuhan dasar manusia

5.     Posisi Kontrol guru

6.     Segitiga Restitusi

   Aksi Nyata: Sosialissi Budaya positif di SMP Negeri 3 Majene

 Pada hari Selasa 24 Oktober 2023, telah dilaksanakan sosialisai budaya positif bertempat di Laboratorium Multimedia SMP Negeri 3 Majene. Kegiatan tersebut dihadiri oleh guru-guru dan dibuka secara langsung oleh kepala SMP Negeri 3 Majene bapak Muhammad Irfan, S,Pd.,MM. dalam kesempatan tersebut bapak Muhammad Irfan menyampaikan dukungan dan motivasinya kepada CGP Angkatan 9 Kab. Majene, Karmila, S.Pd.,M.Pd untuk senantiasa berbagi setiap hal dan pengalaman yang didapatkan pada program guru penggerak. Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi guru-guru SMP Negeri 3 lainnya untuk dapat berbuat yang terbaik untuk sekolah dan menciptakan lingkungan yang positif bagi perkembangan murid-murid di sekolah

     Sebelum melakukan kegiatan sosialisasi ini, terlebih dahulu CGP berkordinasi dengan kepala sekolah tentang rencana sosialisasi, kapan waktu pelaksanaanya, materi apa yang akan disosialisasikan serta target jumlah peserta yang akan mengikuti kegiatan ini. Setelah itu CGP mempersiapkan segala kebutuhan untuk memudahkan pelaksanaan sosialisasi seperti membuat paparan materi, spanduk sosialisasi serta ruangan yang dianggap kondusif untuk pelaksanaan sosialisasi. Sosialisasi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan pada program guru penggerak yakni Aksi nyata pada modul 1.4 Budaya positif sekolah.

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung kurang lebih 1 jam 30 menit, dengan membahas konsep konsep kunci dalam budaya positif, seperti: Disiplin positif & nilai kebajikan universal, teori motivasi, penghargaan, hukuman, restitusi, keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia, posisi kontrol guru, dan segitiga restitusi. Dalam memberikan pemahaman kepada guru-guru pemateri menyajikannya dalam berbagai kegiatan mulai dari bermain peran, tanya jawab, diskusi, penayangan video serta penyajian studi kasus. Kegiatan ini berlangsung dengan lancar

 Sebagai kesimpulan pada sosialisi tersebut adalah Budaya positif di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan pendidikan. Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung, sekolah dapat membantu siswa tumbuh dan berkembang dengan cara yang positif. Dengan berfokus pada motivasi, keterlibatan siswa, dan perkembangan karakter. Sekolah dapat membantu siswa mencapai potensi terbaik mereka dan siap menghadapi tantangan di masa depan. untuk dapat melaksanakan budaya positif ini, dibutuhkan kolaborasi dengan seluruh elemen yang ada di sekolah. Budaya positif di sekolah adalah aset berharga dalam sistem pendidikan. menciptakan iklim di mana siswa merasa termotivasi, aman, dan didukung untuk meraih prestasi akademik dan perkembangan pribadi yang positif. Dengan berfokus pada nilai-nilai positif dan keterlibatan siswa, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan holistik mereka

U

U




Se


Selasa, 27 Oktober 2020

Jejak Media sosialku

Gambar-gambar yang saya sajikan disini adalah hasil screen shoot di halaman media sosial Facebook " karmila Fahizillah". berikut saya lampirkan screen shoot dari kegiatan sosialisasi tatap muka yang telah saya lakukan di 3 sekolah

A. Kunjungan ke Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga Kabupaten Majene






B. sosialisasi di SMP Negeri 3 Majene








C. sosialisasi di SMU Negeri 1 Majene








D. Sosialisasi di SMP Negeri  2 Majene












E. Sosialisasi Vlog di Medsos




















Rabu, 21 Oktober 2020

CV Sang Sahabat

 Bismillah

Sahabat Blogger yang mau tau tentang aku, kalian boleh melihat Videonya berikut ini:



Vlog Pengalaman mengikuti PembaTIK dan Sosialisasi portal Rumah Belajar


Vlog ini berisi tentang pengalaman saya mengikuti kegiatan PembaTIK dan sosialisasi Portal rumah belajar yang saya lakukan di 3 sekolah Kabupaten Majene.

secara lengkapnya silahkan disimak di channel saya..!!!




Selasa, 20 Oktober 2020

Essai PembaTIK Level 4 Tahun 2020 " Duta Rumah Belajar Inspirator & Motivator Abad 21"

 

Duta Rumah Belajar

Inspirator & Motivator Abad 21

Essai ini saya tulis sebagai syarat dan tagihan tugas pelatihan PembaTIK level 4 2020 “Berbagi TIK”. Nama saya Karmila. Saya berasal dari Majene, Sulawesi Barat. Saya adalah guru IPA di SMP Negeri 3 Rujukan Majene dan SRB Sulawesi Barat tahun 2020.

Abad 21 adalah abad kemajuan Teknologi. Perkembangan Ilmu Pengetahuan saat ini tidak lagi dapat dielakkan. Pesatnya kemajuan teknologi dan informasi telah menjalar di berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Peranan guru atau pendidik sangat menentukan maju tidaknya pendidikan di negara tercinta kita yaitu Indonesia. Untuk mengimbangi perkembangan tersebut, maka pendidik dan peserta didik dituntut untuk memiliki kemampuan yang maksimal serta berbagai kecakapan Abad 21.

Dengan dasar tersebut, maka saya sebagai seorang pendidik merasa harus membenahi diri. Bagaimana mungkin saya  yang notabene adalah pendidik mampu melakukan pembelajaran secara biasa di jaman perkembangan IPTEK yang luar biasa ini?. Pertanyaan tersebut terlontar di hati dan mendorong saya untuk harus mengembangkan pengetahuan dan menambah wawasan saya terutama dalam bidang TIK. Selain itu, saya juga memiliki pandangan bahwa seorang guru itu, harus kreatif dan inovatif agar para peserta didiknya termotivasi dan nyaman  untuk belajar. Masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda, maka tugas guru adalah memberikan bimbingan dan pengetahuan kepada mereka agar menjadi generasi yang unggul dan berkarakter.

Sejak tahun 2018 saya mendapatkan informasi tentang Pelatihan PembaTIK  yang diselenggarakan oleh Pusdatin. Pada waktu itu sayapun ikut dan hanya sampai di level 2. Dari sanalah saya juga mengenal portal Rumah belajar Kemdikbud. Pada tahun 2019, saya tidak ikut karena ada bebera pa kegiatan sekolah yang bersamaan. Barulah pada tahun 2020 saya kembali mengikuti kegiatan pelatihan PembaTIK, dan alhamdulillah bisa lolos sampai pada Level 4.

Kegiatan pelatihan PembaTIK yang telah saya ikuti selama ini sangat bermanfaat. banyak sekali ilmu dan pengetahuan baru yang saya dapatkan dan hal itu mampu merubah pandangan saya, bahwa pendidik itu selain harus kreatif dan inovatif, pendidik juga harus bisa menginspirasi banyak orang. Hal itulah yang saya lihat pada para instruktur dari Pusdatin Kemdikbud dan teman-teman Duta Rumah Belajar 2018 dan duta Rumah Belajar 2019. Kemampuan mereka yang luar biasa, tercermin dalam setiap kegiatan pembaTIK level 1, 2, 3, dan 4. Mereka telah berbagi banyak hal kepada kami. Segala yang mereka lakukan saat ini, sangat menyentuh jiwa saya untuk ikut dalam Pemilihan Duta Rumah Belajar 2020. Harapan saya apabila menjadi Duta Rumah Belajar kelak, bisa seperti para pendahulu kami para DRB 2018 & 2019, kreatif, inovatif, dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang terutama kepada peserta didik, rekan-rekan sejawat dan mereka yang menggeluti bidang pendidikan.

“ Hidupnya Pemuda itu dengan ilmu dan taqwa, jika keduanya tidak ada, maka    keberadaannya tidak dianggap ada” ( Imam Syafi’i)

SRB Sulawesi Barat Bertandang ke SMP Negeri 2 Majene

 

Bismillah....

Perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi di era digital ini semakin pesat yang ditandai dengan perubahan- perubahan nyata yang terjadi diberbagai sektor kehidupan. Menghadapi perubahan tersebut maka setiap orang harus berusaha memiliki berbagai kecakapan dan keahlian yang mendukung perubahan tersebut. Kecakapan yang dimaksud adalah kecakapan Abad 21. Menurut Rotherdam & Willingham dalam Trisdiano (2013) menyatakan bahwa kesuksesan seseorang peserta didik tergantung pada kecakapan Abad 21, sehingga peserta didik harus belajar untuk memilikinya. Adapun kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik adalah, Berpikir kritis, kreatif dan inovatif, mampu berkolaborasi serta memiliki kecakapan dalam berkomunikasi.



Apabila peserta didik dituntut untuk memiliki kecakapan-kecakapan tersebut, maka sistem pendidikan di Indonesia harus segera disiapkan agar dapat menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Guru merupakan salah satu pelaku utama dalam dunia pendidikan yang memiliki peran menciptakan generasi unggul dan berkarakter. Olehnya itu guru dituntut untuk terus belajar dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya dengan mengikuti berbagai pelatihan sesuai bidangnya masing-masing.



Sehubungan dengan hal tersebut, pada tanggal 10 Oktober 2020, SRB sulawesi Barat bertandang ke SMP Negeri 2 Majene. Sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah favorit di wilayah kabupaten Majene dan telah mencetak berbagai prestasi dari Tingkat Kabupaten maupun Nasional. Atas rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan pemuda Olahraga Kabupaten Majene serta ibu kepala SMP Negeri 2 Majene, akhirnya kami diberi kesempatan yang spesial untuk melakukan sosialisasi dan Inovasi Pembelajaran dengan Portal Rumah belajar. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh ibu kepala Sekolah dan dihadiri oleh 23 peserta yang berasal dari guru-guru. Beliau menyampaikan kepada kami bahwa ada 2 guru di sekolah ini yang juga mendaftar sebagai peserta PembaTIK tahun ini, namun karena ada kegiatan sekolah yang begitu penting maka peserta tersebut tidak dapat melanjutkan ke level 4. Pada kesempatan ini pula, turut hadir Duta Rumah belajar Sulawesi Barat 2017 yakni bapak Ilham, M.Pd yang senantiasa memberi motivasi dan dukungan penuh demi kelancaran tugas-tugas kami.



Di awal kegiatan ini SRB memberi pertanyaan tebak-tebakan untuk memotivasi peserta sosialisasi. Materi pengenalan fitur-fitur rumah belajar dan model pembelajaran inovatif dibawakan oleh penulis sendiri, sedangkan materi PembaTIK dibawakan oleh rekan kami bapak Abdul Mujid. Alhamdulillah sosialisasi ini berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta.



Terimakasih kepada ibu kepala SMP Negeri 2 Majene yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk melakukan kegiatan sosialisasi serta kepada segenap guru-guru yang telah menyempatkan diri mengikuti kegiatan ini. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat kepada bapak/ibu sekalian. Wassalam

Senin, 19 Oktober 2020

SRB Sulawesi Barat Goes to SMU Negeri 1 Majene

 

Bismillah...

"Jika kau menginginkan sesuatu dalam hidupmu yang tak pernah kau punya. Kau harus melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan." (JD Houson)

Kalimat motivasi dari JD Houson tersebut sangat menginspirasi penulis untuk berusaha melakukan hal-hal yang bermanfaat yang belum pernah penulis lakukan selama ini. Kegiatan PembaTIK tahun 2020 adalah kegiatan yang paling berkesan bagi diri penulis saat ini. Banyak sekali manfaat yang penulis dapatkan dalam mengikuti kegiatan ini mulai dari level 1, 2, 3 dan level 4. Menghadapi kemajuan teknologi dan automasi masa mendatang, setiap orang perlu dibekali dengan berbagai keahlian. Nah pada Kegiatan PembaTIK ini peserta dibekali dengan berbagai macam pengetahuan dan keahlian mulai dari pengenalan perangkat TIK dasar sampai pada pembuatan video dan pembuatan media pembelajaran interaktif serta cara membuat blog dan vlog. Pengetahuan seperti itulah yang sangat penting dimiliki oleh guru millenial saat ini.


Berkenaan dengan hal itu pda hari Jumat 09 Oktober 2020  SRB Sulawesi Barat, Karmila S.Pd M.Pd dan Abdul Mujib S.Pd M.Pd melakukan kunjungan ke salah satu SMA favorit di Kabupaten Majene yaitu SMA Negeri 1 Majene. Siapa sih yang tidak kenal dengan sekolah ini?. SMU Negeri 1 Majene salah satu sekolah yang banyak melahirkan pemimpin pemimpin cerdas dan SDM unggul di Sulawesi Barat khususnya di wilayahKabupaten Majene. Prestasi prestasi siswa yang pernah diraih oleh sekolah ini ini mulai dari tingkat kabupaten sampai ke tingkat nasional sudah tidak terhitung lagi. SMA Negeri 1 Majene saat ini juga dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang keren, bapak Mulyadi Said, S.Pd., M.Pd. Penulis banyak belajar dari beliau ini. 

Adapun tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk mensosialisasikan Rumah Belajar dan Kegiatan PembaTIK kepada warga SMU Negeri 1 Majene. Alhamdulillah sosialisasi berjalan dengan lancar dan disambut dengan antusias oleh para peserta. Di awal sosialisasi kami mengajak kepada semua peserta sosialisasi yang berjumlah 29 orang terdiri dari 3 elemen yakni Guru-Guru, KKN PPL UNM dan peserta didik, untuk mengunduh Rumah Belajar di playstore. Sosialisasi tersebut diakhiri dengan tanya jawab oleh peserta dan  testimoni oleh Kepala SMU Negeri 1 Majene dan perwakilan siswa atas nama ananda Reza, dan 1 orang  perwakilan guru bapak Iqbal, S.Pd. inti dari testimoni tersebut adalah mereka berterima kasih karena adanya sosialisasi rumah belajar disertai dengan model model pembelajaran yg saya bawakan sendiri serta tips dan Cara mengikuti PembaTIK yg dibawakan oleh Narasumber Abdul Mujid dengan itu semua membuka pikiran mereka bahwa ternyata Portal Rumah belajar dapat dijadikan sebagai partner yg setia dalam Belajar dan Mengajar.


Terima kasih tak terhingga dari kami SRB Sulawesi Barat kepada bapak Kepala SMU Negeri 1 Majene atas sambutan hangat dan telah memfasilitasi kegiatan ini, kepada  Wakasek kesiswaan bapak Kasman Msj dan bapak Wakasek kurikulum yg selalu berada ditengah tengah kami selama sosialisasi. Terkhusus kepada DRB Sulawesi Barat pak M Ilham terima kasih telah mendampingi dan mendukung segala kegiatan kami 🙏🤗🤗🤗



 

Sabtu, 17 Oktober 2020

PELESTARIAN BUDAYA MANDAR MELALUI FITUR PETA BUDAYA

 

Mandar, adalah salah satu suku yang berada di pulau sulawesi yaitu, Provinsi Sulawesi Barat. Yang terdiri dari 6 Kabupaten; Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, Mamuju Utara dan Polewali Mandar. Sulawesi Barat mempunyai Jumlah penduduk yg tidak sedikit dengan jumlah 1,285 juta hasil survei di tahun 2014.  Di Sulawesi Barat tidak hanya terdapat suku Mandar saja, tetapi juga ada suku Bugis, Toraja, Jawa dsb.  Banyak keanekaragaman budaya dan Ciri Khas suku mandar yang tentunya belum dikenal banyak oleh masyarakat luas. Dan juga perlu dilakukan pendataan warisan budaya di indonesia agar tetap terjaga kelestariannya.



Budaya Mandar juga termasuk salah satu dari identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya mandar harus terus dijaga keaslian ataupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain.  Dimasa sekarang ini banyak sekali budaya-budaya kita yang mulai menghilang sedikit demi sedikit. Hal ini sangatlah berkaitan erat dengan masuknya budaya asing ke dalam budaya kita.  Sebagai contoh budaya dalam tata cara berpakaian. Dulunya dalam budaya kita sangat mementingkan tata cara berpakaian yang sopan dan tertutup. Akan tetapi, akibat masuknya budaya luar mengakibatkan budaya tersebut berubah. Sekarang berpakaian yang membuka aurat serasa sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat erat di dalam masyarakat kita.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti budaya mandar tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya Mandar juga dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meninggalkan ciri khas dari budaya tersebut. Minimnya komunikasi budaya. Kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya saat ini sering menimbulkan perselisihan antar suku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa. Kurangnya pembelajaran budaya, pembelajaran tentang budaya harus ditanamkan sejak dini namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya Mandar padahal melalui pelajaran budaya kita dapat mengetahui pentingnya budaya mandar dalam membangun budaya bangsa serta Bagaimana cara mengadaptasi budaya Mandar ditengah perkembangan zaman. 

Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi yang ditandai dengan kehadiran sejumlah berbagai alat komunikasi mutakhir, di mana setiap orang dapat mengolah, memproduksi, serta mengirimkan maupun menerima segala bentuk pesan komunikasi, dimana saja dan kapan saja, seolah-olah tanpa mengenal batasan ruang dan waktu, dengan sendirinya dalam memacu terjadinya perkembangan di sektor media massa, yang merupakan bagian dari komponen komunikasi. Akibatnya, seruan informasi yang bersumber dari media massa, baik cetak maupun elektronik mulai terasa. Disadari atau tidak, saat ini kita memang tidak berada dalam suatu lingkaran yang sarat akan informasi. Hal ini tentunya akan memberikan dampak-dampak tertentu bagi masyarakat, baik positif maupun negatif. Namun pastinya, yang perlu diwaspadai adalah dampak negatif dari pesatnya perkembangan tersebut yang secara tidak langsung mulai mengisi liku-liku kehidupan masyarakat. Sebagai catatan dalam beberapa dasawarsa terakhir ini Perkembangan Pusat Teknologi dan arus informasi di Indonesia memang terbilang luar biasa.

Pada portal Rumah Belajar terdapat suatu fitur yang menampilkan Budaya-budaya di seluruh wilayah Indonesia. namanya adalah Fitur “Peta Budaya”. Fitur ini sangat cocok digunakan sebagai wahana untuk memperkenalkan warisan budaya mandar di seluruh nusantara agar dapat tetap terjaga dan tidak menghilang ditelan zaman.

Peta budaya pada portal rumah belajar ini sangat membantu peserta didik dalam mencari informasi- informasi terkait budaya budaya. Bahkan di fitur ini juga dilengkapi dengan peta sehingga peserta didik dapat melihat lokasi tempat budaya terebut berasal. Peta budaya juga dilengkapi dengan video yang menarik, sehingga peserta didik tidak akan bosan ketika mengakses fitur ini.

Salah satu Budaya mandar yang dapat ditampilkan di peta budaya adalah perahu sandeq. Perahu sandek adalah perahu khas Majene dan sebagian besar wilayah Sulawesi Barat yang lain seperti Polewali Mandar dan Mamuju. Sandeq merupakan simbolis dari kekayaan kemaritiman Mandar dan menjadi salah satu perahu tercepat di dunia. Sandeq, perahu tradisional Mandar merupakan warisan leluhur sebagai sarana para nelayan untuk mencari ikan di laut sebagai mata pencaharian, sebagai sarana transportasi para pedagang pada masa silam mengarungi lautan untuk menjual hasil bumi.

 

Jadi salah satu cara untuk tetap melestarikan budaya mandar agar tidak hilang dan tetap terjaga adalah dengan memasukkannya dalam fitur peta budaya di portal rumah belajar. fitur ini dapat kalian akses  kapan saja, dan dimana saja.